BANYUWANGI – Menko Marves, Luhut Binsar Pandjaitan, dalam kunjungannya ke Banyuwangi belum lama ini menyempatkan meninjau langsung bangunan bersejarah Kantor Dagang Inggris atau yang lebih dikenal dengan Inggrisan.
Didampingi Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Luhut melihat desain rencana revitalisasi bangunan yang berdiri sejak awal abad ke-17 tersebut.
“Wah ini bagus, keren,” kata Luhut.
Luhut meminta nantinya apabila direvitalisasi, tidak mengubah bentuk asli bangunan. “Nanti jangan mengubah bentuk aslinya. Pohon-pohon yang ada disini juga jangan ditebang. Untuk prajurit yang masih ada disini, sudah disiapkan rumah,” kata Luhut.
Luhut mengatakan lebih baik gedung Inggrisan dikelola dengan baik agar bisa menghasilkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. “Kalau lokasi ini kemudian direvitalisasi, menjadi destinasi yang keren, tentu bermanfaat bagi ekonomi masyarakat,” tambah Luhut.
Gedung Inggrisan sendiri merupakan aset TNI AD. Pemkab Banyuwangi dan Kodam V Brawijaya telah menandangani MoU, pada 2019 lalu, untuk merevitalisasi aset milik TNI AD tersebut dikemas menjadi wisata sejarah. Desain arsitektur revitalisasi Gedung Inggrisan juga telah jadi merupakan karya dari arsitek ternama yang dikenal piawai dalam memasukkan unsur budaya, Youri Antar.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani mengatakan, dalam konsep revitalisasi sama sekali tidak mengubah bangunan asli.
“Sama sekali tidak mengubah bangunan aslinya, karena mengusung konsep heritage dengan lansekap zaman Belanda dulu,” kata Ipuk.
Dalam desain revitalisasi tersebut nantinya terdapat gedung serbaguna, hotel, klinik, restoran dan galeri, kolam renang, dan fasilitas pendukung lainnya.
Ipuk mengatakan Inggrisan perlu direhabilitasi karena memiliki nilai sejarah yang tinggi. Banyak nilai historis yang bisa digali dari bangunan ini dan pastinya akan sangat menarik untuk tahu sejarah di balik bangunan tersebut.
“Saat ini mulai banyak orang yang mulai tertarik dengan wisata sejarah. Mengetahui sejarah zaman dahulu ini bagi sebagian orang menjadi daya tarik wisata tersendiri, seperti di Eropa. Inggrisan nantinya dikembangkan jadi wisata sejarah,” kata Ipuk.
![]()














