KUTAI TIMUR – Pembentukan karakter anak bangsa melalui kesenian dan kebudayaan bisa menjadi salah satu faktor generasi milenial untuk mencintai seni dan budaya tradisional.
Pengajaran seni dan budaya sebagai salah satu upaya mengenalkan kesenian tradisional agar kaum milenial tidak hanya mencintai tapi juga menjadi pelaku dalam menjaga tradisi kesenian.
Hal tersebut diutarakan oleh Wakil Ketua II DPRD Kutim saat ditemui awak media di ruang kerjanya baru-baru ini terkait korelasi antara kesenian dan kebudayaan dengan era digital yang merambah dibarengi dengan berbagai kebudayaan dari luar dan dampak negatifnya terhadap generasi muda Kutim.
“Hubungan antara edukasi seni dan budaya, pembentukan karakter anak, dengan upaya melestarikan kesenian tradisional sangat erat dan harus menjadi kesatuan yang utuh. Terlebih ditengah maraknya pengaruh budaya luar yang mudah diterima kaum milenial, pengenalan kesenian saat ini bisa jadi menjadi hal yang langka. Oleh karena itu edukasi terkait kesenian dan kebudayaan tradisional sangat dibutuhkan,” paparnya.
Dirinya juga menegaskan bahwa seni dan budaya merupakan salah satu bentuk jati diri bangsa yang harus dilestarikan. Oleh karena itu dirinya mengapresiasi adanya kelompok masyarakat ataupun perorangan yang masih terus berupaya memberikan edukasi dan melestarikan kebudayaan asli daerah.
Dirinya juga menyampaikan bahwa baik secara pribadi ataupun atas nama lembaga DPRD Kutim mendukung adanya pelestarian dan juga edukasi kebudayaan asli daerah yang menurutnya juga dapat menjadi salah satu ikon dan daya tarik bagi suatu wilayah.
“Rekan-rekan di DPRD pun secara kontinue melalui usulan yang diterimanya dari masyarakat telah turut berupaya melestarikan kebudayaan lokal dengan memberikan berbagai bantuan alat kesenian,” tutupnya. (Adv-DPRD/Q)
![]()














