SAMARINDA – Politisi senior Partai Demokrat di Kalimantan Timur yang telah 15 tahun menjadi kader yang loyal kepada partai, akhirnya harus pamit dan bersiap ke partai lain.
Dialah H Achmad Sukamto, politisi senior yang malang melintang mengurus Partai Demokrat tidak saja di Demokrat Kaltim tetapi juga turut di Demokrat Samarinda. Bahkan, Sukamto yang penuh prestasi dan jabatan tersebut pernah menjadi Wakil Ketua DPRD Samarinda.
Kini loyalitas dan pengabdian terhadap partai pimpinan Agus Harimurti Yudhoyono tersebut keluar dan mengundurkan diri karena tidak puas dengan kaderisasi di dalam partainya.
Achmad Sukamto bersama enam Pengurus Anak Cabang Kecamatan, melepaskan baju kebesaran partai berwarna biru tersebut. Sukamto dan pengurus cabang di Samarinda tersebut kecewa dengan kaderisasi partai yang tidak berjalan sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai.
“Mulai hari ini, Saya dan enam pengurus cabang di Samarinda mengundurkan diri dan mengembalikan baju partai dan Kartu Tanda Anggota kami. Saya kecewa, kaderisasi di dalam partai tidak berjalan semestinya,” tegasnya usai jumpa pers di Warkop Bagio’s Samarinda, pada Selasa sore (14/6/2022).
Menurutnya jenjang kaderisasi di Partai Demokrat mandeg dan tidak memiliki standar yang jelas. Bahkan, kedekatan dengan pimpinan partai dapat menjadikan seorang yang hanya relawan menjadi pucuk pimpinan. Oknum-oknum tersebut, ujar Sukamto, tidak dapat membedakan mana yang kader partai yang loyal dan mana yang tidak.
Ke-enam Pengurus Anak Cabang di Samarinda yang mengundurkan diri dan keluar dari Partai Demokrat yaitu PAC Samarinda Ulu, Samarinda Ilir, Palaran, Samarinda Seberang, Loa Janan Ilir dan PAC Kecamatan Sambutan. Selain itu turut pula mengundurkan diri yaitu Wakil Sekretaris 1 DPD Kaltim, H. Muhammad Firmanuddin dan beberapa orang pengurus DPD lainnya yaitu Teguh Rizki Fauzi dan Dian Wahyudi.
Ada empat poin yang disampaikan Sukamto pada pengunduran dirinya dari Partai pimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ini, yaitu kaderisasi di partai yang dinilai tidak sistematis dan mengayomi kader yang memiliki loyalitas tinggi.
Selain itu, dirinya menilai terdapat oknum Pengurus Pusat Partai yang mengedepankan suka dan tidak suka terhadap seseorang (like and dislike), dan ketiga adalah tidak adanya standarisasi oleh pengurus pusat partai dalam memilih seseorang untuk menduduki jabatan ketua.
“Saya menilai partai yang selama ini saya cintai dan banggakan sudah tidak sejalan dengan nilai-nilai perjuangan dan idealisme partai. Daripada saya di dalam (partai) dan menjadi bagian yang rusak, maka lebih baik saya mengundurkan diri dan akan melirik partai lainnya,” tegasnya.
Usai mengundurkan diri, Sukamto, mengatakan dirinya akan beristirahat, namun istirahatnya hanya sejenak sebelum menentukan kemana pilihan berpolitiknya akan diserahkan kepada partai lainnya.
“Istirahat sejenak sambil berkonsolidasi. Perlu renungan untuk menentukan kemana pilihan partai yang sesuai dengan ideologi pilihan hati dan jalan hidup saya,” ujarnya. (YUL)
![]()














